Pendidikan adalah hak anak yang menjadi kewajiban atas orangtua. Ia adalah hibah atau hadiah. Hal ini telah ditegaskan oleh nabi SAW melalui sabda beliau, ”Mereka itu disebut oleh Allah sebagai abrâr (orang-orang yang baik) karena mereka berbakti kepada orang tua dan anak. Sebagaimana kamu mempunyai hak atas anakmu, maka anakmu juga mempunyai hak atasmu.” Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adab al-Mufrad.
Peringatan dan perbaikan terhadap anak bukanlah tindakan balas dendam yang didasari amarah, melainkan suatu metode pendidikan yang didasari atas rasa cinta dan kasih sayang. Ibnu Jazzar al-Qairawani menjelaskan tentang perbaikan anak sejak dini, “Sesungguhnya masa kanak-kanak adalah masa terbaik bagi pendidikan. Apabila kita dapati sebagian anak mudah dibina dan sebagian lain sulit dibina, sebagian giat belajar dan sebagian lain sangat malas belajar, sebagian mereka belajar untuk maju dan sebagian lain belajar hanya untuk terhindar dari hukuman.”
Sebenarnya sifat-sifat buruk yang timbul dalam diri anak di atas bukanlah lahir dan fitrah mereka. Sifat-sifat tersebut terutama timbul karena kurangnya peringatan sejak dini dari orangtua dan para pendidik. Semakin dewasa usia anak, semakin sulit pula baginya untuk meninggalkan sifat-sifat buruk. Banyak sekali orang dewasa yang menyadari keburukan sifat-sifatnya, tapi tidak mampu mengubahnya. Karena sifat-sifat buruk itu sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Maka berbahagialah para orangtua yang selalu memperingati dan mencegah anaknya dari sifat-sifat buruk sejak dini, karena dengan demikian, mereka telah menyiapkan dasar yang kuat bagi kehidupan anak di masa mendatang.”
Merupakan kesalahan besar apabila menyepelekan kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan anak, karena kebakaran yang besar terjadi sekalipun berawal dari api yang kecil. Maka bila orangtua mendapati anaknya melakukan kesalahan, seperti berkata kasar misalnya, hendaknya langsung memperingatinya.
Setelah mengetahui arti penting peringatan dan perbaikan bagi anak, maka para orangtua dan pendidik harus mengerti metode yang diajarkan Rasulullah SAW dalam peringatan dan perbaikan anak. Dalam dunia pendidikan, metode ini disebut dengan metode penghargaan (reward) dan hukuman (punishement). Dengan metode tersebut diharapkan agar anak didik dapat termotivasi untuk melakukan perbuatan positif dan progresif.
Pada sisi lain, pendidikan anak dengan metode pemberian penghargaan dan hukuman banyak disepelekan oleh para orang tua dan pendidik, karena sudah begitu biasa dilakukan. Sehingga kententuan dan aturan yang ada pun dilupakan bahkan banyak yang tidak menyadari kalau hal yang dianggap sepele itu memiliki aturan. Padahal, kekeliriun pada saat menerapkan metode pendidikan ini, bisa berakibat fatal sehingga merusak kepribadian anak yang sebelumnya sudah terbentuk dengan baik.
B. KONSEP PEMBERIAN PENGHARGAAN DAN HUKUMAN
Salah satu teknik atau metode pendidikan Islam adalah pendidikan dengan pemberian penghargaan dan hukuman. Penghargaan atau hadiah dalam pendidikan anak akan memberikan motivasi untuk terus meningkatkan atau paling tidak mempertahankan prestasi yang telah didapatnya, di lain pihak temannya yang melihat akan ikut termotivasi untuk memperoleh hal yang sama. Sedangkan hukuman atau sanksi sangat berperan penting dalam pendidikan anak sebab pendidikan yang terlalu lunak akan membentuk anak kurang disiplin dan tidak mempunyai keteguhan hati.
Sudah menjadi tabiat manusia memiliki kencendrungan kepada kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu pendidikan Islam berupaya mengembangkan manusia dalam berbagai jalan kebaikan dan jalur keimanan. Demikian pula pendidikan Islam berupaya menjauhkan manusia dari keburukan dengan segala jenisnya. Jadi tabiat ini merupakan kombinasi antara kebaikan dan keburukan, maka tabiat baik perlu diarahkan dengan memberikan imbalan, penguatan dan dorongan, sedangkan tabiat buruk perlu dipagari dan dicegah. Cara pengarahan ini dikenal dalam al-Qur’an dengan metode targhib dan tarhib.
Targhîb dan tarhîb merupakan salah satu teknik pendidikan yang bertumpu pada fitrah manusia dan keiginannya pada imbalan, kenikmatan dan kesenangan. Metode ini pun bertumpu pada rasa takut mausia terhadap hukuman, kesulitan dan akibat buruk. Tekhnik imbalan (targhib) diisyaratkan Allah dalam Surat Ali Imran ayat 133:
”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Adapun tekhnik hukuman (tarhib) diungkapkan dalam Firman Allah Swt salah satunya pada surat at-Tahrim ayat 6 sebagai berikut:
”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…”.
C. Pandangan Pakar Pendidikan Islam Tentang Penghargaan dan Hukuman
1. Pandangan Imam al-Ghazali
Menurut al-Ghazali hendaknya para guru memberikan nasehat kepada siswanya dengan kelembutan. Guru di tuntut berperan sabagai orang tua yang dapat merasakan apa yang dirasakan anak didiknya, jika anak memperlihatkan suatu kemajuan, seyogianya guru memuji hasil usaha muridnya, berterima kasih padanya, dan mendukungnya terutama didepan teman-temannya.
Guru perlu menempuh prosedur yang berjenjang dalam mendidik dan menghukum anak saat dia melakukan kesalahan. Apabila pada suatu kali anak menyalahi perilaku terpuji, selayaknya pendidik tidak membongkar dan membeberkan kesalahan-kesalahannya itu. Mengungkapan rahasianya itu mungkin akan membuatnya semakin berani melanggar. Jika anak mengulangi kesalahan yang sama, tegurlah dengan halus dan tunjukkan urgensi kesalahannya. Al-Ghazali juga mengingatkan bahwasanya menegur dan mencela secara berkesinambungan dan mengungkit-ungkit kesalahan yang dilakukannya membuat anak menjadi pembangkang. Sehubungan dengan hal tersebut Al-Ghazali menegaskan ”Jangan terlampau banyak mencela setiap saat karena perkataan tidak lagi berpengaruh dalam hatinya. Hendaknya guru atau orang tua menjaga kewibawaan nasehatnya.”
2. Pandangan Ibnu Khaldun
Ibn Khaldun mengemukakan masalah imbalan dan hukuman di dalam bukunya al-Muqaddimah, beliau tidak menyebutkan selain seorang pendidik harus mengetehui cara pertumbuhan akal manusia yang bertahap hingga ia mampu mensejalankan pertumbuhan itu dengan pengajarannya terhadap anak didik. Ia menasehatkan agar tidak kasar dalam memperlakukan anak didik yang masih kecil, mencubit tubuh dalam pengajaran merusak anak didik, khususnya anak kecil.
Perlakuan kasar dan keras terhadap anak kecil dapat menyebabkan kemalasan dan mendorong mereka untuk berbohong serta memalingkan diri dari ilmu dan pengajaran. Oleh karena itu pendidik harus memperlakukan anak didik dengan kelembutan dan kasih sayang serta tegas dalam waktu-waktu yang diutuhkan untuk itu.
3. Pandangan Ibnu Jama’ah
Pemberian imbalan lebih kuat dan lebih berpengaruh terhadap pendidikan anak dari pada pemberian hukuman. Sanjungan dan pujian guru dapat mendorong siswanya untuk meraih keberhasilan dan prestasi yang lebih baik. Ibnu Jama’ah lebih memprioritaskan imbalan, anggapan baik, pujian dan sanjungan. Hal ini perlu dijelaskan oleh guru bahwa pujian itu disebabkan oleh upaya dan keunggulan siswa tersebut, sehingga siswa dapat memahaminya.
Ibnu Jama’ah sangat menghindar dari penerapan hukuman yang dapat menodai kemuliaan manusia dan merendahkan martabatnya. Jadi hukuman itu merupakan bimbingan dan pengarahan perilaku serta pengendaliannya dengan kasih sayang. Hukuman perlu diberikan dengan landasan pendidikan yang baik dan ketulusan dalam bekerja, bukan berlandaskan kebencian dan kemarahan.
D. PRINSIP-PRINSIP PEMBERIAN PENGHARGAAN DAN HUKUMAN
1. Prinsip-Prinsip Pemberian Penghargaan
Pertama, penilaian didasarkan pada ’perilaku’ bukan ’pelaku’. Untuk membedakan antara ’pelaku’ dan ’perilaku’ memang masih sulit, terutama bagi yang belum terbiasa. Apalagi kebiasaan dan presepsi yang tertanam kuat dalam pola pikir kita yang sering menyamakan kedua hal tersebut. Istilah atau panggilan semacam ’anak shaleh’, anak pintar’ yang menunjukkan sifat ’pelaku’ tidak dijadikan alasan peberian penghargaan karena akan menimbulkan persepsi bahwa predikat ’anak shaleh’ bisa ada dan bisa hilang. Tetapi harus menyebutkan secara langsung perilaku anak yang membuatnya memperoleh hadiah. Jadi komentar seperti ”Kamu dikasih hadiah karena sebulan ini kamu benar-benar jadi anak shaleh”, harus dirubah menjadi ”Kamu diberi hadiah bulan ini karena kerajinan kamu dalam melaksanakan shalat wajib”.
Kedua, pemberian penghargaan atau hadiah harus ada batasnya. Pemberian hadiah tidak bisa menjadi metode yang dipergunakan selamanya. Proses ini cukup difungsikan hingga tahapan penumbuhan kebiasaan saja. Manakala proses pembiasaan dirasa telah cukup, maka pemberian hadiah harus diakhiri. Maka hal terpenting yang harus dilakukan adalah memberikan pengertian sedini mungkin kepada anak tentang pembatasan ini.
Ketiga, penghargaan berupa perhatian. Alternatif bentuk hadiah yang terbaik bukanlah berupa materi, tetapi berupa perhatian baik verbal maupun fisik. Perhatian verbal bisa berupa komentar-komentar pujian, seperti, ’Subhanallah’, Alhamdulillah’, indah sekali gambarmu’. Sementara hadiah perhatian fisik bisa berupa pelukan, atau acungan jempol.
Keempat, dimusyawarahkan kesepakatannya. Persepsi umum para orang dewasa, kerap menyepelekan dan menganggap konyol celotehan anak. Bahwa anak suka bicara ceplas-ceplos dan mementingkan diri sendiri memanglah benar, tetapi itu bisa diatasi dengan beberapa kiat tertentu. Setiap anak yang ditanya tentang hadiah yang dinginkan, sudah barang tentu akan menyebutkan barang-barang yang ia sukai. Maka disinilah ditunutut kepandaian dan kesabaran seorang guru atau orang tua untuk mendialogkan dan memberi pengertian secara detail sesuai tahapan kemamuan berpikir anak, bahwa tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi.
Kelima, distandarkan pada proses, bukan hasil. Banyak orang lupa, bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil. Proses pembelajaran, yaitu usaha yang dilakukan anak, adalah merupakan lahan perjuangan yang sebenarnya. Sedangkan hasil yang akan diperoleh nanti tidak bisa dijadikan patokan keberhasilannya. Orang yang cenderung lebih mengutramakan hasil tidak terlalu mempermasalahkan apakah proses pencapaian hasil tersebut dilakukan secara benar atau salah, halal atau haram.
Sebuah contoh bisa dilahat pada sekolah yang membuat buku penilaian terhadap aktifitas shalat para siswa SD selama berada di rumah. Pihak sekolah tidak memiliki cara untuk mengetahui kebenaran pengisian buku tersebut. Pihak sekolah tidak merasa penting menilai alur proses yang terjadi dalam menumbuhkan kebiasaan siswanya shalat, tetapi hanya menstandarkan pemberian hadiah pada hasil saja, yaitu bukti yang tertera dalam buku pemantauan shalat tersebut.
2. Prinsip-Prinsip Pemberian Hukuman
Pertama, kepercayaan terlebih dahulu kemudian hukuman. Metode terbaik yang tetap harus diprioritaskan adalah memberikan kepercayaan kepada anak. Memberikan kepercayaan kepada anak berarti tidak menyudutkan mereka dengan kesalahan-kesalahannya, tetapi sebaliknya kita memberikan pengakuan bahwa kita yakin mereka tidak berniat melakukan kesalahan tersebut, mereka hanya khilaf atau mendapat pengaruh dari luar.
Memberikan komentar-komentar yang mengandung kepercayaan, harus dilakukan terlebih dahulu ketika anak berbuat kesalahan. Hukuman, baik berupa caci maki, kemarahan maupun hukuman fisik lain, adalah urutan prioritas akhir setelah dilakukan berbagai cara halus dan lembut lainnya untuk memberikan pengertian kepada anak.
Kedua, hukuman distandarkan pada perilaku. Sebagaimana halnya pemberian hadiah yang harus distandarkan pada perilaku, maka demikian halnya hukuman, bahwa hukuman harus berawal dari penilaian terhadap perilaku anak, bukan ’pelaku’ nya. Setiap anak bahkan orang dewasa sekalipun tidak akan pernah mau dicap jelek, meski mereka melakukan suatu kesalahan.
Ketiga, menghukum tanpa emosi. Kesalahan yang paling sering dilakukan orangtua dan pendidik adalah ketika mereka menghukum anak disertai dengan emosi kemarahan. Bahkan emosi kemarahan itulah yang menjadi penyebab timbulnya keinginan untuk menghukum. Dalam kondisi ini, tujuan sebenarnya dari pemberian hukuman yang menginginkan adanya penyadaran agar anak tak lagi melakukan kesalahan, menjadi tak efektif.
Kesalahan lain yang sering dilakukan seorang pendidik ketika menghukum anak didiknya dengan emosi, adalah selalu disertai nasehat yang panjang lebar dan terus mengungkit-ungkit kesalahan anak. Dalam kondisi seperti ini sangat tidak efektif jika digunakan untuk memberikan nasehat panjang lebar, sebab anak dalam kondisi emosi sedang labil, sehingga yang ia rasakan bukannya nasehat tetapi kecerewetan dan omelan yang menyakitkan.
Keempat, hukuman sudah disepakati. Sama seperti metode pemberian hadiah yang harus dimusyawarahkan dan didiologkan terlebih dahulu, maka begitu pula yang harus dilakukan sebelum memberikan hukuman. Adalah suatu pantangan memberikan hukuman kepada anak, dalam keadaan anak tidak menyangka ia akan menerima hukuman, dan ia dalam kondosi yang tidak siap. Mendialogkan peraturan dan hukuman dengan anak, memiliki arti yang sangat besar bagi si anak. Selain kesiapan menerima hukuman ketika melanggar juga suatu pembelajaran untuk menghargai orang lain karena ia dihargai oleh orang tuanya.
Kelima, tahapan pemberian hukuman. Dalam memberikan hukuman tentu harus melalui beberapa tahapan, mulai dari yang teringan hingga akhirnya jadi yang terberat. Untuk itu kita perlu merujuk kepada al-Qur’an, seperti apa konsep tahapan hukuman yang dibicarakan disana. Salah satu jenis kesalahan yang ditereangkan secara jelas tahapan hukumannya adala mengenai istri nusyuz.
Difirmankan Allah dalam surat An-Nisa ayat 34:
…wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Adapun Ibnu Jama’ah memandang bahwa hukuman kependidikan dapat diberikan dalam empat tahapan. Jika siswa melakukan perilaku yang tidak dapat diterima, guru dapat mengikuti empat tahapan berikut:
a. Melarang perbuatan itu didepan siswa yang melakukan kesalahan tanpa menyebutkan namanya
b. Jika anak tidak menghentikan, guru dapat melarangnya secara sembunyi-sembunyi, misal dengan isyarat.
c. Jika anak tidak juga menghentikannya, guru dapat melarangnya secara tegas dan keras, agar yang dia dan teman-temannya menjauhkan diri dari perbuatan semacam itu.
d. Jika anak tidak kunjung menhentikannya, guru dapat mengusirnya dan tidak memperdulikannya.
3. Keseimbangan Penghargaan dan Hukuman
Segala sesuatu perlu ukuran, perlu keseimbangan. Yaitu proporsi ukuran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Belum tentu ukuran tersebut harus berbagi sama. Keseimbangan imbalan dan hukuman pun tidak berarti harus diberikan dalam porsi sama, satu-satu.
Yang akan dipakai sebagai standar keseimbangan adalah sama seperti standar yang dipergunakan Allah SWT dalam memberikan pahala dan dosa bagi hamba-hambaNya. Seperti kita ketahui, Allah menjanjikan pahala bagi manusia, untuk sekedar sebuah niat berbuat baik. Manakala niat itu diwujudkan dalam bentuk sebuah amal, Allah akan membalasnya dengan pahala yang bukan hanya satu, melainkan berlipat ganda. Sebaliknya, Allah mempersulit pemberian dosa bagi hambaNya. Nita untuk bermaksiat belumlah dicatat sebagai dosa, kecuali niat itu terelaksana, itupun bisa segera Dia hapuskan ketika kita segera beristigfar.
Keseimbangan inilah yang harus kita teladani dalam memberikan imbalan dan hukuman kepada anak. Kita harus mengutamakan dan mempermudah memberikan penghargaan dan hadiah kepada anak dan meminimalkan pemberian hukuman.
Metode pemberian hukuman adalah cara tekhir yang dilakukan, saat sarana atau metode lain mengalami kegagalan dan tidak mencapai tujuan. Saat itu boleh melakukan penjatuhan hukuman. Dan ketika menjatukan hukuman harus mencari waktu yang tepat serta sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan.
Rabu, 18 Mei 2011
REWARD
Maka, keduanya memakan buah pohon itu. Lalu, tampaklah bagi keduanya auratnya. Mulailah keduanya menutupi dengan daun-daun (yang di surga). Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah dia. Kemudian, Tuhan memilihnya. Dia menerima tobat dan memberinya petunjuk. Allah berfirman, Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Tha Ha : 122-123).
Makna di atas menurut hemat penulis menuntun, mengarahkan dan menjadikan kita sebagai manusia untuk berpikir dan memaknai hikmah. Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, Nabi Adam memperoleh hukuman dan ketika Nabi Adam bertaubat, Allah yang maha luas pengampunannya itu mengampuni dan Allah memberi petunjuk menuju jalan yang benar. Kajian ini kalau dicermati bahwa sesungguhnya Allah memberikan reward kepada siapapun yang melakukan kebaikan, dan bertaqwa.
Pandangan pendidikan mulai berubah, hasil beberapa peneliti yang beranggapan bahwa reward dalam pendidikan itu tidak perlu lagi. Hal ini berbeda dengan pandangan pendidikan lima tahun yang lalu. Pandangan pendidikan lima tahun yang lalu beranggapan bahwa mendidik sangat diperlukan adanya reward. Dua tematik yang berbeda dalam kurun waktu yang relatif muda. Alasan pandangan pendidikan itu tidak perlu reward itu karena pendidikan itu merupakan kebutuhan bagi peserta didik. Dengan adanya reward dikhawatirkan anak akan melakukan sesuatu itu karena hadiah atau penghargaan atau pujian dan ketika itu tidak diperoleh maka anak tidak akan termotivasi. Pandangan itu sekilas ada benarnya.
Hasil penelitian kualitatif itu sifatnya sangat temporer dan situasional, artinya apabila penelitian dilakukan hanya di satu tempat maka validitas dan reliabilitasnya tidak dapat dijamin kebenarannya. Pada tempat yang berbeda dan komunitas yang berbeda akan berbeda pula. Bahkan dalam generasi yang berbeda juga akan berubah. Yang penulis maksud dari pemikiran tidak perlu adanya reward berdasarkan hasil penelitian itu perlu dilakukan penelitian lanjutan minimal mengaji secara seksama.
Sampai detik ini penulis masih sependapat dengan hasil penelitian masa lalu yang banyak mengungkapkan bahwa dalam menumbuhkan motivasi perlu adanya reward. Allah memberikan reward rezeki 700 kali dari apa yang manusia infaqkan ke jalan Allah. Allah akan memberikan reward surga bagi manusia yang bertaqwa dan senantiasa berbuat baik. Ini bukti ilmiah yang dapat menguatkan perlunya reward. Penulis khawatir orang-orang yang sependapat dengan pemikiran tidak perlunya adanya reward, tanpa mengaji dan menelaah pemikiran itu lebih dalam. Tumbuhnya motivasi instrinsik manusia itu dapat berasal dari berbagai situasi, bisa jadi manusia termotivasi karena pujian, termotivasi karena hadiah, termotivasi karena penghargaan, termotivasi karena ucapan terima kasih dan masih banyak lagi yang lain, hal itu sangat manusiawi.
Seorang pegawai akan rajin bekerja ada beberapa hal yang membuat dirinya menjadi termotivasi untuk bekerja keras. (1). Seorang pegawai akan bekerja keras karena lingkungan kerja nyaman, aman dan tenang. (2). Seorang pegawai akan bekerja keras karena dihargai harkat dan martabatnya. (3). Seorang pegawai akan bekerja keras karena diperhatikan oleh pimpinannya. (4). Seorang pegawai akan bekerja keras karena diperhatikan jaminan hidupnya. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk motivasi dapat digali. Hal ini pararel dengan bagaimana mendidik siswa. Peserta didik juga perlu perhatian, pujian, penghargaan dan reward-reward lainnya.
Menjadikan anak bermartabat bukan berarti hilangnya reward. Anak bertabat karena dididik dan dibina dengan baik, sehingga proses pendidikan yang baik dan penuh teladan itulah yang akan menumbuhkan jati diri anak untuk menjadi manusia yang bermartabat. Dalam penilaian dan pengukuran hasil belajar siswa terdapat aspek-aspek penilaian yang sarat dengan reward. Perubahan pandangan ini bukan berarti penulis anti-memandang perubahan ini. Pendapat manusia dan hasil penelitian sosial itu terpotensi berubah setiap saat, jadi bagi penulis apabila kajian dari beberapa hasil penelitian tentang tidak perlunya reward itu benar menurut keyakinan penulis, ya penulis tidak menampik kebenaran itu, tetapi sampai detik ini penulis masih meyakini bahwa reward itu perlu dalam pendidikan. Apa yang menjadi keyakinan dalam membangun pendidikan penulis yakin semata-mata untuk membangun generasi yang tangguh. Saran penulis jika hendak melakukan perubahan kajilah dengan seksama, dan hati-hati. Sikap kita, keputusan kita dan kebijakan kita dalam mendidik generasi adalah satu kemuliaan apabila kita benar dan tepat, tetapi apabila sikap kita, keputusan kita dan kebijakan kita salah, ingatlah bahwa satu generasi akan menanggung dosa dari kesalahan kita. Semoga kita dapat menjadi pendidik yang senantiasa mendapat petunjuk dari Allah SWT, dan menjadi khalifah yang senantiasa benar dan tepat dalam membuat kebijakan, keputusan. Amin,..
Makna di atas menurut hemat penulis menuntun, mengarahkan dan menjadikan kita sebagai manusia untuk berpikir dan memaknai hikmah. Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, Nabi Adam memperoleh hukuman dan ketika Nabi Adam bertaubat, Allah yang maha luas pengampunannya itu mengampuni dan Allah memberi petunjuk menuju jalan yang benar. Kajian ini kalau dicermati bahwa sesungguhnya Allah memberikan reward kepada siapapun yang melakukan kebaikan, dan bertaqwa.
Pandangan pendidikan mulai berubah, hasil beberapa peneliti yang beranggapan bahwa reward dalam pendidikan itu tidak perlu lagi. Hal ini berbeda dengan pandangan pendidikan lima tahun yang lalu. Pandangan pendidikan lima tahun yang lalu beranggapan bahwa mendidik sangat diperlukan adanya reward. Dua tematik yang berbeda dalam kurun waktu yang relatif muda. Alasan pandangan pendidikan itu tidak perlu reward itu karena pendidikan itu merupakan kebutuhan bagi peserta didik. Dengan adanya reward dikhawatirkan anak akan melakukan sesuatu itu karena hadiah atau penghargaan atau pujian dan ketika itu tidak diperoleh maka anak tidak akan termotivasi. Pandangan itu sekilas ada benarnya.
Hasil penelitian kualitatif itu sifatnya sangat temporer dan situasional, artinya apabila penelitian dilakukan hanya di satu tempat maka validitas dan reliabilitasnya tidak dapat dijamin kebenarannya. Pada tempat yang berbeda dan komunitas yang berbeda akan berbeda pula. Bahkan dalam generasi yang berbeda juga akan berubah. Yang penulis maksud dari pemikiran tidak perlu adanya reward berdasarkan hasil penelitian itu perlu dilakukan penelitian lanjutan minimal mengaji secara seksama.
Sampai detik ini penulis masih sependapat dengan hasil penelitian masa lalu yang banyak mengungkapkan bahwa dalam menumbuhkan motivasi perlu adanya reward. Allah memberikan reward rezeki 700 kali dari apa yang manusia infaqkan ke jalan Allah. Allah akan memberikan reward surga bagi manusia yang bertaqwa dan senantiasa berbuat baik. Ini bukti ilmiah yang dapat menguatkan perlunya reward. Penulis khawatir orang-orang yang sependapat dengan pemikiran tidak perlunya adanya reward, tanpa mengaji dan menelaah pemikiran itu lebih dalam. Tumbuhnya motivasi instrinsik manusia itu dapat berasal dari berbagai situasi, bisa jadi manusia termotivasi karena pujian, termotivasi karena hadiah, termotivasi karena penghargaan, termotivasi karena ucapan terima kasih dan masih banyak lagi yang lain, hal itu sangat manusiawi.
Seorang pegawai akan rajin bekerja ada beberapa hal yang membuat dirinya menjadi termotivasi untuk bekerja keras. (1). Seorang pegawai akan bekerja keras karena lingkungan kerja nyaman, aman dan tenang. (2). Seorang pegawai akan bekerja keras karena dihargai harkat dan martabatnya. (3). Seorang pegawai akan bekerja keras karena diperhatikan oleh pimpinannya. (4). Seorang pegawai akan bekerja keras karena diperhatikan jaminan hidupnya. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk motivasi dapat digali. Hal ini pararel dengan bagaimana mendidik siswa. Peserta didik juga perlu perhatian, pujian, penghargaan dan reward-reward lainnya.
Menjadikan anak bermartabat bukan berarti hilangnya reward. Anak bertabat karena dididik dan dibina dengan baik, sehingga proses pendidikan yang baik dan penuh teladan itulah yang akan menumbuhkan jati diri anak untuk menjadi manusia yang bermartabat. Dalam penilaian dan pengukuran hasil belajar siswa terdapat aspek-aspek penilaian yang sarat dengan reward. Perubahan pandangan ini bukan berarti penulis anti-memandang perubahan ini. Pendapat manusia dan hasil penelitian sosial itu terpotensi berubah setiap saat, jadi bagi penulis apabila kajian dari beberapa hasil penelitian tentang tidak perlunya reward itu benar menurut keyakinan penulis, ya penulis tidak menampik kebenaran itu, tetapi sampai detik ini penulis masih meyakini bahwa reward itu perlu dalam pendidikan. Apa yang menjadi keyakinan dalam membangun pendidikan penulis yakin semata-mata untuk membangun generasi yang tangguh. Saran penulis jika hendak melakukan perubahan kajilah dengan seksama, dan hati-hati. Sikap kita, keputusan kita dan kebijakan kita dalam mendidik generasi adalah satu kemuliaan apabila kita benar dan tepat, tetapi apabila sikap kita, keputusan kita dan kebijakan kita salah, ingatlah bahwa satu generasi akan menanggung dosa dari kesalahan kita. Semoga kita dapat menjadi pendidik yang senantiasa mendapat petunjuk dari Allah SWT, dan menjadi khalifah yang senantiasa benar dan tepat dalam membuat kebijakan, keputusan. Amin,..
Selasa, 12 April 2011
MKCH MUHAMMADIYAH
1. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk malaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
2. Muhammdiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan spritual, duniawi dan ukhrawi.
3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan:
a. Al-Qur'an: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW;
b. Sunnah Rasul: Penjelasan dan palaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur'an yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.
3. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang:
a. 'Aqidah
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid'ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.
b. Akhlak
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Sunnah rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia
c. Ibadah
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.
d. Muamalah Duniawiyah
Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu'amalat duniawiyah (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadi semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.
5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan diridhoi Allah SWT:
"BALDATUN THAYYIBATUB WA ROBBUN GHOFUR"
1. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk malaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
2. Muhammdiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi penutup Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan spritual, duniawi dan ukhrawi.
3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan:
a. Al-Qur'an: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW;
b. Sunnah Rasul: Penjelasan dan palaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur'an yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.
3. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang:
a. 'Aqidah
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bid'ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.
b. Akhlak
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Sunnah rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia
c. Ibadah
Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.
d. Muamalah Duniawiyah
Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu'amalat duniawiyah (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadi semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.
5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan diridhoi Allah SWT:
"BALDATUN THAYYIBATUB WA ROBBUN GHOFUR"
KEPRIBADIAN MUHAMMADIYAH
1. Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan.
2. Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah.
3. Lapang dada, luas pandangan, dengan memegang teguh ajaran Islam.
4. Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan.
5. Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara yang sah.
6. Amar ma'ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik.
7. Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan, sesuai dengan ajaran Islam.
8. Kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya.
9. Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun Negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridlai Allah SWT.
10. Bersifat adil serta kolektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana.
(Keputusan Muktamar ke 35)
1. Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan.
2. Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah.
3. Lapang dada, luas pandangan, dengan memegang teguh ajaran Islam.
4. Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan.
5. Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara yang sah.
6. Amar ma'ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik.
7. Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan, sesuai dengan ajaran Islam.
8. Kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya.
9. Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun Negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridlai Allah SWT.
10. Bersifat adil serta kolektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana.
(Keputusan Muktamar ke 35)
Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah disusun dan dirumuskan oleh Ki Bagus Hadikusuino sebagai hasil penyorotan dan pengungkapan kembali terhadap pokok-pikiran pokok-pikiran yang dijadikan dasar amal usaha dan perjuangan Kyai Ahmad Dahlan dengan menggunakan wadah persyarikatan Muhamnadiyah. Rumu¬san "Muqaddimah" diterima dan disahkan oleh Muktamar Muhammadiyah ke 31 yang dilangsungkan di kota Yogya¬karta pada tahun 1950, setelah melewati penyempur¬naan segi redaksional yang dilaksanakan oleh sebuah team yang dibentuk oleh sidang Tanwir. Team ponyem¬purnaan tersebut anggota-anggotanya terdiri dari - Buya HAMKA, K.H. Farid Ma'ruf, Mr. Kasman Singodime¬djo serta Zain Jambek.
sebab-sebabnya antara lain :
1. Belum adanya kepastian rumusan tentang cita-cita dan dasar perjuangan Muhammadiyah
2. Kehidupan rohani keluarga Muhammadiyah menampak¬kan gejala menurun, akibat terlalu berat mengejar kehidupan duniawi.
3. Makin kuatuya berbagai pengaruh dari luar yang langsung atau tidak berhadapan dengan faham dan keyakinan Muhammadiyah
Bersama dengan perkembangan zaman yang membawa berbagai perubahan dalam masyarakat, maka tidak ketinggalan pengaruh cara-cara berfikir, sikap hidup atau pandangan hidup masuk ke tengah-tengah masyara¬kat Indonesia.
4. Dorongan disusunnya preambul UUD 1945
Sesaat menjelang proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, tokoh-¬tokoh pergerakan bangsa Indonesia dihimpun oleh pemerintah Jepang dalam wadah "Badan Penyelidik" usaha persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang tugasnya antara lain mempelajari Negara Indonesia Merdeka
B. FUNGSI MUQADDIMAH AD MUHAMMADIYAH
Bagi persyarikatan Muhammadiyah, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah berfungsi sebagai . "Jiwa dan semangat pengabdian serta perjuangan per¬syarikatan Muhammadiyah".
C. MATAN ATAU ISI POKOK
Muqoddimah Anggarah Dasar Muhammadiyah
"Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pe¬nyayang. Segala puji bagi Allah yang mengasuh semua alam; yang Maha Pemurah dan Penyayang; yang memegang pengadilan pada hari kemudian; Hanya kepada Kau hamba menyembah dan hanya kepada Kau hamba mohon pertolongan; Berilah petunjuk kepada hamba jalan yang lempang; Jalan orang-orang yang telah Kau beri kenikmatan, yang tidak dimurkai dan tidak tersesat lagi". (al-Qur'an surat al¬Fatihah).
"Saya ridha, bertuhan kepada Allah, beragama kepada Islam dan bernabi kepada Muhammad Rasulul¬lah Shallal ahu 'alaihi wasallam”.
1. Amma ba'du, Bahwa sesungguhnya ke-Tuhanan itu adalah hak Allah semata-mata. Bertuhan dan ber¬ibadah serta tunduk dan ta'at kepada Allah adalah satu-satunya ketentuan yang wajib atas tiap-tiap makhluk, terutama manusia.
2. Hidup bermasyarakat itu adalah sunnah (hukum qudrat-iradat) Allah atass kehidupan manusia.
3. Masyarakat yang sejahtera, aman, damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diujudkan di atas dasar keadilan, kejujuran, persaudaraan dan go¬tong-royong bertolong-tolongan dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari pada pengaruh syaitan dan hawa nafau. Agama Allah yang dibawa dan diajarkan oleh sekalian Nabi yang bijaksana dan berjiwa suci, adalah satu-satunya Pdcok hukum dalam masyarakat yang utama dan seba¬ik-baiknya.
4. Menjunjung tinggi hukum Allah lebih dari pada hukum yang manapun juga, adalah kawajiban mutlak bagi tiap-tiap orang yang mengaku ber-Tuhan kepa¬da Allah. Agama Islam adalah agama Allah yang dibawa oleh sekalian Nabi, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw. dan diajarkan kepada unmatnya masing-masing untuk mendapatkan hidup bahagia dunia dan akhirat.
5. Syahdan, untuk menciptakan masyarakat yang baha¬gia dan sentosa sebagai yang tersebut di atas itu, tiap-tiap orang, terutama ummat Islam, ummat yang percaya akan Allah dan Hari Kemudian, wajib¬lah mengikuti jejak sekalian Nabi yang suci itu; beribadah kepada Allah dan berusaha segiat-giat¬nya mengumpulkan segala kekuatan dan memperguna¬kannya untuk menjelmakan masyarakat itu di dunia ini, dengan niat yang kurni-tulus dan ikhlas karena Allah semata-mata dan hanya mengharapkan karunia Allah dan ridla-Nya belaka serta mempu¬nyai rasa tanggung-jawab di hadlirat Allah atas segala perbuatannya; lagi pula harus sabar dan tawakkal bertabah hati menghadapi segala kesukar¬an atau kesulitan yang menimpa dirinya, atau rintangan yang menghalangi pekerjaannya dengan penuh pengharapan akan perlindungan dan perto¬longan Allah Yang Maha Kuasa.
6. Untuk melaksanakan terwujudnya masyarakat yang demikian itu, maka dengan berkat dan rahmat Allah dan didirong oleh firman Allah dalam al-Qur'an :
"Adakanlah dari kamu sekalian golongan yang me¬ngajak kepada keIslaman, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari pada keburukan. Mereka itulah-golongan yang beruntung berbahagia". (al-Qur'an surat Ali 'Imran ayat 104)
Pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah atau 18 Nopember 1912 Miladiyah oleh Almarhum K.H.A. Dahlan didirikanlah suatu Persyarikatan sebagai "GERAKAN ISLAM' dengan nama "MUHAMMADIYAH" yang disusun dengan majlis-majlis (Bagian-bahgian)¬nya, mengikuti peredaran zaman serta berdasarkan "syura" yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau Muktamar.
7. Kesemuanya itu perlu untuk menunaikan kewa,jiban mengamalkan perintah-perintah Allah dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya, Nabi Muhamnad saw, guna menda¬patkan karunia dan ridla-Nya, di dunia dan akhirat, dan untuk mencapai masyarakat yang sen¬tosa dan bahagia, disertai nikmat dan rahmat Allah yang melimpah-limpah, sehingga merupakan :
"Suatu negara yang indah, bersih, suci dan makmur di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Pengampun".
Maka degan Muhammadiyah ini mudah-mudahan umnat Islam dapatlah diantarkan ke pintu gerbang Syurga "Jannatun Na'imi' dengan keridlaan Allah Yang Rahman dan Rahim.
sebab-sebabnya antara lain :
1. Belum adanya kepastian rumusan tentang cita-cita dan dasar perjuangan Muhammadiyah
2. Kehidupan rohani keluarga Muhammadiyah menampak¬kan gejala menurun, akibat terlalu berat mengejar kehidupan duniawi.
3. Makin kuatuya berbagai pengaruh dari luar yang langsung atau tidak berhadapan dengan faham dan keyakinan Muhammadiyah
Bersama dengan perkembangan zaman yang membawa berbagai perubahan dalam masyarakat, maka tidak ketinggalan pengaruh cara-cara berfikir, sikap hidup atau pandangan hidup masuk ke tengah-tengah masyara¬kat Indonesia.
4. Dorongan disusunnya preambul UUD 1945
Sesaat menjelang proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, tokoh-¬tokoh pergerakan bangsa Indonesia dihimpun oleh pemerintah Jepang dalam wadah "Badan Penyelidik" usaha persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang tugasnya antara lain mempelajari Negara Indonesia Merdeka
B. FUNGSI MUQADDIMAH AD MUHAMMADIYAH
Bagi persyarikatan Muhammadiyah, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah berfungsi sebagai . "Jiwa dan semangat pengabdian serta perjuangan per¬syarikatan Muhammadiyah".
C. MATAN ATAU ISI POKOK
Muqoddimah Anggarah Dasar Muhammadiyah
"Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pe¬nyayang. Segala puji bagi Allah yang mengasuh semua alam; yang Maha Pemurah dan Penyayang; yang memegang pengadilan pada hari kemudian; Hanya kepada Kau hamba menyembah dan hanya kepada Kau hamba mohon pertolongan; Berilah petunjuk kepada hamba jalan yang lempang; Jalan orang-orang yang telah Kau beri kenikmatan, yang tidak dimurkai dan tidak tersesat lagi". (al-Qur'an surat al¬Fatihah).
"Saya ridha, bertuhan kepada Allah, beragama kepada Islam dan bernabi kepada Muhammad Rasulul¬lah Shallal ahu 'alaihi wasallam”.
1. Amma ba'du, Bahwa sesungguhnya ke-Tuhanan itu adalah hak Allah semata-mata. Bertuhan dan ber¬ibadah serta tunduk dan ta'at kepada Allah adalah satu-satunya ketentuan yang wajib atas tiap-tiap makhluk, terutama manusia.
2. Hidup bermasyarakat itu adalah sunnah (hukum qudrat-iradat) Allah atass kehidupan manusia.
3. Masyarakat yang sejahtera, aman, damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diujudkan di atas dasar keadilan, kejujuran, persaudaraan dan go¬tong-royong bertolong-tolongan dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari pada pengaruh syaitan dan hawa nafau. Agama Allah yang dibawa dan diajarkan oleh sekalian Nabi yang bijaksana dan berjiwa suci, adalah satu-satunya Pdcok hukum dalam masyarakat yang utama dan seba¬ik-baiknya.
4. Menjunjung tinggi hukum Allah lebih dari pada hukum yang manapun juga, adalah kawajiban mutlak bagi tiap-tiap orang yang mengaku ber-Tuhan kepa¬da Allah. Agama Islam adalah agama Allah yang dibawa oleh sekalian Nabi, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad saw. dan diajarkan kepada unmatnya masing-masing untuk mendapatkan hidup bahagia dunia dan akhirat.
5. Syahdan, untuk menciptakan masyarakat yang baha¬gia dan sentosa sebagai yang tersebut di atas itu, tiap-tiap orang, terutama ummat Islam, ummat yang percaya akan Allah dan Hari Kemudian, wajib¬lah mengikuti jejak sekalian Nabi yang suci itu; beribadah kepada Allah dan berusaha segiat-giat¬nya mengumpulkan segala kekuatan dan memperguna¬kannya untuk menjelmakan masyarakat itu di dunia ini, dengan niat yang kurni-tulus dan ikhlas karena Allah semata-mata dan hanya mengharapkan karunia Allah dan ridla-Nya belaka serta mempu¬nyai rasa tanggung-jawab di hadlirat Allah atas segala perbuatannya; lagi pula harus sabar dan tawakkal bertabah hati menghadapi segala kesukar¬an atau kesulitan yang menimpa dirinya, atau rintangan yang menghalangi pekerjaannya dengan penuh pengharapan akan perlindungan dan perto¬longan Allah Yang Maha Kuasa.
6. Untuk melaksanakan terwujudnya masyarakat yang demikian itu, maka dengan berkat dan rahmat Allah dan didirong oleh firman Allah dalam al-Qur'an :
"Adakanlah dari kamu sekalian golongan yang me¬ngajak kepada keIslaman, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari pada keburukan. Mereka itulah-golongan yang beruntung berbahagia". (al-Qur'an surat Ali 'Imran ayat 104)
Pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah atau 18 Nopember 1912 Miladiyah oleh Almarhum K.H.A. Dahlan didirikanlah suatu Persyarikatan sebagai "GERAKAN ISLAM' dengan nama "MUHAMMADIYAH" yang disusun dengan majlis-majlis (Bagian-bahgian)¬nya, mengikuti peredaran zaman serta berdasarkan "syura" yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau Muktamar.
7. Kesemuanya itu perlu untuk menunaikan kewa,jiban mengamalkan perintah-perintah Allah dan mengikuti Sunnah Rasul-Nya, Nabi Muhamnad saw, guna menda¬patkan karunia dan ridla-Nya, di dunia dan akhirat, dan untuk mencapai masyarakat yang sen¬tosa dan bahagia, disertai nikmat dan rahmat Allah yang melimpah-limpah, sehingga merupakan :
"Suatu negara yang indah, bersih, suci dan makmur di bawah perlindungan Tuhan Yang Maha Pengampun".
Maka degan Muhammadiyah ini mudah-mudahan umnat Islam dapatlah diantarkan ke pintu gerbang Syurga "Jannatun Na'imi' dengan keridlaan Allah Yang Rahman dan Rahim.
Minggu, 16 Januari 2011
Kapan Mulai Mengajari Anak Sopan Santun?
Para ahli mengingatkan, ajari anak tata krama sedini mungkin. Jangan tunggu hingga anak besar karena bisa berabe. Bagaimana memulainya ?Tentunya para orang tua akan bangga jika dikatakan bahwa anaknya sangat sopan. Namun sebaliknya, jika anaknya dicap sebagai tak tahu aturan, tentunya sebagai orang tuanya Anda sangat sedih, bukan? Bagaimana mengajari si kecil agar ia bisa berlalu sopan?
Menurut psikolog Hera L. Mikarsa, Ph.D , mengajari sopan santun atau tata krama sebaiknya dilakukan sejak dini. "Bisa dimulai sejak ia berusia 1 atau 1,5 tahun. Saat ia mulai mengerti. "Jadi, jangan tunggu hingga ia besar. Sebab kala ia sudah besar, tentunya ia sudah punya kebiasaan tertentu. Akan memakan waktu lama untuk mengubahnya."
DARI YANG SEDERHANA
Juga, jangan karena menganggap ia masih kecil, lantas dianggap belum penting mengajarkan tata krama. Toh, nanti pelajaran tata krama dan budi pekerti akan didapatkannya saat duduk di bangku TK atau SD. Ini anggapan yang salah. "Sebab, ia belajar di TK juga hanya sebentar, sekitar dua jam. Apa cukup pelajaran budi pekerti dan tata krama yang ia peroleh? Lagi pula, semakin ia besar, semakin sulit hal ini diajarkan."
Kalau sejak kecil tidak diajarkan norma-norma yang baik, bisa jadi kelak ia tumbuh menjadi anak tak tahu aturan. Misalnya, masuk ke rumah orang langsung berlarian ke sana-kemari. Membuka lemari es dan mengambil isinya seenaknya, seakan-akan itu adalah lemari es ibunya. Namun Hera juga mengakui, tak tertutup kemungkinan si anak juga belajar dari lingkungan. Karena ia akan berpikir, 'Kok, di rumahnya begini, sedangkan di rumah teman-temannya lain lagi'. "Dia merasa dengan cara temannya itu ternyata bisa diterima oleh masyarakat. Maka ia akan meniru cara yang lebih bisa diterima itu. Jadi kontrol sosial di sini sangat berperan." Namun tetap yang paling baik adalah bila dari rumahnyalah pengajaran tata krama ini didapatnya.
Untuk anak batita, menurut dosen psikologi perkembangan UI ini, sebaiknya pengajaran tata krama dimulai dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, membuang sampah harus di tempatnya, makan harus di meja makan, membaca tidak boleh sambil tiduran di lantai, sebelum makan harus cuci tangan dulu, dsb. Atau, kalau ia bertemu dengan tetangga, ajarkan ia bersalaman, mengucapkan terima kasih bila diberi oleh-oleh, dsb. "Jadi mulai dari hal-hal simpel yang terjadi dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga hal-hal simpel ini akan menjadi kebiasaan hingga ia besar nanti." Pola pengajarannya pun tidak bisa dengan wejangan atau nasihat. "Ia tak akan mengerti. Harus dengan contoh. Kalaupun harus dengan kalimat, ungkapkan dengan kalimat yang sederhana dan mudah dicerna mereka." Nanti dengan bertambahnya umur, otomatis pemahamanannya semakin baik, sehingga mengajarkannya bisa lebih bervariasi.
Orang tua juga harus konsekuen. Jika ia mengajarkan anaknya harus makan di meja makan, tapi ia sendiri kalau makan sambil menonton teve, ya, tidak jalan. Orang tua pun harus melakukan apa yang diajarkan pada anaknya. "Sebab semakin besar anak, semakin kritis ia. Jika konsisten, hal ini akan jadi akar yang baik dari tingkah lakunya di masa datang." Juga, kalau ia menerapkan aturan sepatu tak boleh naik di atas sofa, jangan sampai lain kali diperbolehkan. Sebab, hal ini akan membingungkan si kecil. Kalaupun orang tua hendak membuat perkecualian, sebaiknya dijelaskan alasannya sehingga tak mengacaukan aturan yang sedang diterapkan.
Selain itu, si kecil juga belum tahu mengapa ia harus melakukan semua tata krama itu. Tugas orang tualah yang harus menjelaskan alasan di belakang aturan itu. Misalnya, mengapa ia harus mengucapkan kata 'tolong', 'terima kasih', atau 'maaf'. Dengan demikian, ia punya motivasi untuk melakukannya. Namun, sekali lagi,hera mengingatkan bahwa ungkapan-ungkapan seperti 'tolong', 'terima kasih', atau 'maaf', tidak akan jalan kalau orang tuanya tidak membiasakannya atau tidak melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. "Karena ia tidak melihat contoh nyata. Jangan lupa, daya ingat si kecil masih terbatas, sehingga mereka gampang lupa. Kalau kita tidak mengajari dengan memberi contoh, ya, ajaran itu akan lewat begitu saja." Namun lain halnya jika si ibu biasa mengucapkan 'terima kasih' pada pelayan swalayan yang telah membantu mencarikan barang. Atau, mengucapkan 'maaf' ketika bertubrukkan dengan orang lain di lorong swalayan. Si kecil akan meniru perbuatan ini. Selain itu, sebaiknya orang tua pun melakukan hal yang sama pada si kecil. Ucapkan kata 'tolong' ketika meminta ia mengambil sesuatu, dan 'terima kasih' sesudahnya. Juga kata 'maaf' kalau si orang tua tak sengaja menyenggol mainan si kecil. Dengan demikian anak akan merasa dihargai. Dan kelak ia pun akan menjadi anak yang dapat menghargai orang lain. Sebab, prinsip dasar mengajarkan sopan santun adalah menghargai hak dan perasaan orang lain.
CONTOH BURUK
Anak tidak hanya mencontoh dari orang tuanya. Bisa saja ia mencontoh dari pembantu atau televisi. "Kadang ada, kan, orang tua yang terkaget-kaget, kok, si kecil bisa berkata dengan kalimat tak senonoh. Ternyata setelah diselidiki, si kecil sering diajak main pembantu ke rumah tetangga. Dan sesama pembantu tersebut kalau saling bercanda atau berolok-olok memakai kalimat-kalimat yang kurang senonoh. Nah, kalimat-kalimat ini didengar oleh anak. Dan karena terbiasa mendengar kalimat-kalimat demikian, hal ini akan diadaptasinya. Walaupun sebenarnya ia tak mengerti arti kalimat tersebut. Begitu juga dengan kalimat-kalimat iklan di teve, hampir tak ada permintaan sesuatu disertai kata 'tolong'. Tapi hanya mengatakan, 'Ambilkan obat itu, dong.'Itu, kan, bukan contoh yang baik juga." Itulah pentingnya mendampingi si kecil saat ia menonton tv. Sehingga kalau ada iklan yang tidak sesuai dengan tata krama yang sedang diajarkan, si orang tua bisa menjelaskan. Bahwa yang baik bukan begitu. Sehingga anak tahu perbedaannya.
Bagaimana mensiasatinya jika ibunya bekerja? Ya, orang tua harus bekerja sama dengan pembantunya atau orang-orang yang menjaga anaknya. Beritahu juga bahwa sikap bagaimana yang dikhendaki si orang tua pada anaknya. "Cobalah cari pengasuh yang bisa mengajarkan tata krama pada anak. Kalau pengasuh ini tidak terdidik, tak ada salahnya, si orang tua mentraining pengasuh ini lebih dahulu. Dan berilah wewenang pada pengasuh, agar ia pun dapat bertindak tegas pada majikan kecilnya ini. Karena kadang si pengasuh tidak bisa tegas pada si kecil karena merasa tak bisa menolak permintaan si majikan kecil ini. Jadi, orang tua jangan lantas marah kalau pembantunya menegur si kecil
TEGURAN DAN PUJIAN
Orang tua juga harus terus mengingatkan. Karena si kecil daya ingatnya sangat terbatas. Sehingga ia mudah lupa atas larangan dan anjuran yang diterapkan. Jadi, jangan terkejut jika mereka banyak melanggarnya. Bersabarlah dan jangan bosan-bosan untuk terus mengingatkannya, sampai hal ini menjadi suatu kebiasaan.
Jika ia lupa mengucapkan kata 'tolong', tanyakan 'coba apa kata ajaib yang harus diucapkan kalau meminta sesuatu pada orang lain?' kalau ia tak bisa juga mengingatnya, jawablah sendiri kata tersebut sehingga ia sadar bahwa kata itu sangat penting. Dan kalau kebiasaan baik itu dibiasakan sejak kecil, kala dewasa akan dengan secara otomatis terucap.
Hasil didikan orang tua ini biasanya akan terlihat saat anakmulai bersosialisasi keluar. Dari situ baru kelihatan apakah ia bersikap sopan atau urakan. Dan karena di usia 2-3 tahun, si kecil juga mulai bermain di luar, orang tua sebaiknya juga mengajarkan tata krama untuk bergaul. Bagaimana ia harus sharing saling menunggu giliran. Kalau Lebaran, anak diajarkan bersilaturahmi dan saling minta maaf. Juga diajarkan menghormati orang yang lebih tua. Misalnya, kepada yang tua, bersalamnya dengan cium tangan.
Hera mengakui bahwa anak kecil memang cenderung mengacak-acak rumah orang jika diajak bertamu. Nah, kalau sudah demikian, si orang tua harus mencegahnya. "Jangan didiamkan saja hanya karena merasa enggak enak memarahi anak di rumah orang. Menurut saya tak apa-apa saja anak kecil ditegur, tentunya dengan cara yang acceptable . Daripada ia merusak barang-barang orang lain, kan, lebih malu lagi. Pegangi dia dan dudukkan di sebelah orang tuanya. Kalau ia mulai berkeliaran lagi, segera hentikan."
Jika hal ini tak efektif, misalnya ia tetap ingin memainkan barang-barang tuan rumah, segera angkat si anak dan pindahkan dia dari tempat yang menarik perhatiannya tersebut. "Alihkan segera perhatiannya, misalnya dengan memberinya mainan kesukaannya. Kalau barang tersebut tak terlihat olehnya lagi, maka biasanya akan segera hilang dari pikirannya."
Orang tua juga sebaiknya menjelaskan tentang perbedaan aturan di rumah lain. Karena standar kesopanan satu keluarga dengan keluarga lain berbeda. Ada keluarga yang tidak membolehkan memakai sandal dan sepatu di dalam rumah. Sehingga alas kaki itu harus ditinggalkan di luar pintu. Keluarga lain justru membolehkan. "Justru orang tua harus menerangkan perbedaan ini. Untuk memperkaya wawasannya."
Kalau anak tidak berlaku sopan, misalnya suka meminum minuman si tamu. "Nah, kita harus tegur ia secara tegas tapi lembut bahwa hal itu tidak boleh. Ia harus ambil minumannya di dalam."
Teguran harus disesuaikan dengan usia dan pribadi anak. Ada anak yang sekali ditegur lantas sudah menangis, tapi ada anak yang cuek saja pada peringatan orang tuanya. "Namun umumnya, di usia batita ini, pelototan mata ibunya saja atau dengan kata-kata 'Jangan! Awas! Tidak boleh begitu!', sudah cukup."
Kalau teguran ini tidak jalan, bisa ditingkatkan dengan ancaman. Misalnya, 'kalau kamu masih terus begitu, nanti tidak boleh minum susu cokelat.' Jadi hanya bersifat mengurangi kesenangannya. "Lebih baik tidak dilakukan hukuman fisik karena itu tidak efektif," ungkap ketua program profesi Fak. Psikologi Universitas Indonesia ini.
Hera juga menyarankan bahwa teguran pada si kecil sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Segera setelah ia melakukan kesalahannya. Sehingga ia bisa menghubungkan hukumannya dengan perbuatannya. Kalau peneguran itu ditunda, misalnya menunggu hingga di dalam rumah, ia sudah lupa. "Anak kecil cepat melupakan suatu peristiwa. Kalau kita menegurnya atau menghukumnya di lain kesempatan, ia akan bingung, 'Salah saya apa, sehingga Ibu menghukum saya'. Tapi kalau saat itu juga ditegur, ia akan mengerti, 'Oh, Ibu tidak suka kalau saya melakukan hal ini.'" Namun Hera juga mengingatkan bahwa anak seusia batita masih spontan. Kata-katanya kadang begitu terus terang, sehingga kadang ada kata-katanya yang menurut orang tua sangat tidak sopan. Misalnya, 'Lo, tas Tante, kok, gendut kayak perut Tante.' "Hal ini biasanya dilakukan tanpa kesengajaan. Hanya karena spontanitas yang biasanya menjadi ciri anak-anak." Yang disengaja adalah, jika mereka mengucapkan kata-kata tak senonoh untuk mengejek. Misalnya mengolok-olok temannya, dsb. "Tapi biasanya ini terjadi pada anak di atas usia batita. Kalau anak batita lebih ke tak sengaja." Kalau sudah demikian, tugas orang tualah yang harus terus mengarahkan si kecil. Tentunya penghargaan pun harus diberikan padanya jika ia bisa memenuhi standar orang tuanya. Misalnya, kala ia tanpa disuruh dengan sendirinya mengucapkan 'terima kasih' pada si tetangga yang memberinya sesuatu. Nah, berilah hadiah. Hadiah ini tidak hanya berupa barang, tapi pujian, pelukan, belaian, elusan di kepalanya pun sudah sudah cukup. "Sebab kalau rewards ini berupa barang, jangan-jangan anak akan berbuat baik hanya agar dapat hadiah saja."
Menurut psikolog Hera L. Mikarsa, Ph.D , mengajari sopan santun atau tata krama sebaiknya dilakukan sejak dini. "Bisa dimulai sejak ia berusia 1 atau 1,5 tahun. Saat ia mulai mengerti. "Jadi, jangan tunggu hingga ia besar. Sebab kala ia sudah besar, tentunya ia sudah punya kebiasaan tertentu. Akan memakan waktu lama untuk mengubahnya."
DARI YANG SEDERHANA
Juga, jangan karena menganggap ia masih kecil, lantas dianggap belum penting mengajarkan tata krama. Toh, nanti pelajaran tata krama dan budi pekerti akan didapatkannya saat duduk di bangku TK atau SD. Ini anggapan yang salah. "Sebab, ia belajar di TK juga hanya sebentar, sekitar dua jam. Apa cukup pelajaran budi pekerti dan tata krama yang ia peroleh? Lagi pula, semakin ia besar, semakin sulit hal ini diajarkan."
Kalau sejak kecil tidak diajarkan norma-norma yang baik, bisa jadi kelak ia tumbuh menjadi anak tak tahu aturan. Misalnya, masuk ke rumah orang langsung berlarian ke sana-kemari. Membuka lemari es dan mengambil isinya seenaknya, seakan-akan itu adalah lemari es ibunya. Namun Hera juga mengakui, tak tertutup kemungkinan si anak juga belajar dari lingkungan. Karena ia akan berpikir, 'Kok, di rumahnya begini, sedangkan di rumah teman-temannya lain lagi'. "Dia merasa dengan cara temannya itu ternyata bisa diterima oleh masyarakat. Maka ia akan meniru cara yang lebih bisa diterima itu. Jadi kontrol sosial di sini sangat berperan." Namun tetap yang paling baik adalah bila dari rumahnyalah pengajaran tata krama ini didapatnya.
Untuk anak batita, menurut dosen psikologi perkembangan UI ini, sebaiknya pengajaran tata krama dimulai dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, membuang sampah harus di tempatnya, makan harus di meja makan, membaca tidak boleh sambil tiduran di lantai, sebelum makan harus cuci tangan dulu, dsb. Atau, kalau ia bertemu dengan tetangga, ajarkan ia bersalaman, mengucapkan terima kasih bila diberi oleh-oleh, dsb. "Jadi mulai dari hal-hal simpel yang terjadi dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga hal-hal simpel ini akan menjadi kebiasaan hingga ia besar nanti." Pola pengajarannya pun tidak bisa dengan wejangan atau nasihat. "Ia tak akan mengerti. Harus dengan contoh. Kalaupun harus dengan kalimat, ungkapkan dengan kalimat yang sederhana dan mudah dicerna mereka." Nanti dengan bertambahnya umur, otomatis pemahamanannya semakin baik, sehingga mengajarkannya bisa lebih bervariasi.
Orang tua juga harus konsekuen. Jika ia mengajarkan anaknya harus makan di meja makan, tapi ia sendiri kalau makan sambil menonton teve, ya, tidak jalan. Orang tua pun harus melakukan apa yang diajarkan pada anaknya. "Sebab semakin besar anak, semakin kritis ia. Jika konsisten, hal ini akan jadi akar yang baik dari tingkah lakunya di masa datang." Juga, kalau ia menerapkan aturan sepatu tak boleh naik di atas sofa, jangan sampai lain kali diperbolehkan. Sebab, hal ini akan membingungkan si kecil. Kalaupun orang tua hendak membuat perkecualian, sebaiknya dijelaskan alasannya sehingga tak mengacaukan aturan yang sedang diterapkan.
Selain itu, si kecil juga belum tahu mengapa ia harus melakukan semua tata krama itu. Tugas orang tualah yang harus menjelaskan alasan di belakang aturan itu. Misalnya, mengapa ia harus mengucapkan kata 'tolong', 'terima kasih', atau 'maaf'. Dengan demikian, ia punya motivasi untuk melakukannya. Namun, sekali lagi,hera mengingatkan bahwa ungkapan-ungkapan seperti 'tolong', 'terima kasih', atau 'maaf', tidak akan jalan kalau orang tuanya tidak membiasakannya atau tidak melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. "Karena ia tidak melihat contoh nyata. Jangan lupa, daya ingat si kecil masih terbatas, sehingga mereka gampang lupa. Kalau kita tidak mengajari dengan memberi contoh, ya, ajaran itu akan lewat begitu saja." Namun lain halnya jika si ibu biasa mengucapkan 'terima kasih' pada pelayan swalayan yang telah membantu mencarikan barang. Atau, mengucapkan 'maaf' ketika bertubrukkan dengan orang lain di lorong swalayan. Si kecil akan meniru perbuatan ini. Selain itu, sebaiknya orang tua pun melakukan hal yang sama pada si kecil. Ucapkan kata 'tolong' ketika meminta ia mengambil sesuatu, dan 'terima kasih' sesudahnya. Juga kata 'maaf' kalau si orang tua tak sengaja menyenggol mainan si kecil. Dengan demikian anak akan merasa dihargai. Dan kelak ia pun akan menjadi anak yang dapat menghargai orang lain. Sebab, prinsip dasar mengajarkan sopan santun adalah menghargai hak dan perasaan orang lain.
CONTOH BURUK
Anak tidak hanya mencontoh dari orang tuanya. Bisa saja ia mencontoh dari pembantu atau televisi. "Kadang ada, kan, orang tua yang terkaget-kaget, kok, si kecil bisa berkata dengan kalimat tak senonoh. Ternyata setelah diselidiki, si kecil sering diajak main pembantu ke rumah tetangga. Dan sesama pembantu tersebut kalau saling bercanda atau berolok-olok memakai kalimat-kalimat yang kurang senonoh. Nah, kalimat-kalimat ini didengar oleh anak. Dan karena terbiasa mendengar kalimat-kalimat demikian, hal ini akan diadaptasinya. Walaupun sebenarnya ia tak mengerti arti kalimat tersebut. Begitu juga dengan kalimat-kalimat iklan di teve, hampir tak ada permintaan sesuatu disertai kata 'tolong'. Tapi hanya mengatakan, 'Ambilkan obat itu, dong.'Itu, kan, bukan contoh yang baik juga." Itulah pentingnya mendampingi si kecil saat ia menonton tv. Sehingga kalau ada iklan yang tidak sesuai dengan tata krama yang sedang diajarkan, si orang tua bisa menjelaskan. Bahwa yang baik bukan begitu. Sehingga anak tahu perbedaannya.
Bagaimana mensiasatinya jika ibunya bekerja? Ya, orang tua harus bekerja sama dengan pembantunya atau orang-orang yang menjaga anaknya. Beritahu juga bahwa sikap bagaimana yang dikhendaki si orang tua pada anaknya. "Cobalah cari pengasuh yang bisa mengajarkan tata krama pada anak. Kalau pengasuh ini tidak terdidik, tak ada salahnya, si orang tua mentraining pengasuh ini lebih dahulu. Dan berilah wewenang pada pengasuh, agar ia pun dapat bertindak tegas pada majikan kecilnya ini. Karena kadang si pengasuh tidak bisa tegas pada si kecil karena merasa tak bisa menolak permintaan si majikan kecil ini. Jadi, orang tua jangan lantas marah kalau pembantunya menegur si kecil
TEGURAN DAN PUJIAN
Orang tua juga harus terus mengingatkan. Karena si kecil daya ingatnya sangat terbatas. Sehingga ia mudah lupa atas larangan dan anjuran yang diterapkan. Jadi, jangan terkejut jika mereka banyak melanggarnya. Bersabarlah dan jangan bosan-bosan untuk terus mengingatkannya, sampai hal ini menjadi suatu kebiasaan.
Jika ia lupa mengucapkan kata 'tolong', tanyakan 'coba apa kata ajaib yang harus diucapkan kalau meminta sesuatu pada orang lain?' kalau ia tak bisa juga mengingatnya, jawablah sendiri kata tersebut sehingga ia sadar bahwa kata itu sangat penting. Dan kalau kebiasaan baik itu dibiasakan sejak kecil, kala dewasa akan dengan secara otomatis terucap.
Hasil didikan orang tua ini biasanya akan terlihat saat anakmulai bersosialisasi keluar. Dari situ baru kelihatan apakah ia bersikap sopan atau urakan. Dan karena di usia 2-3 tahun, si kecil juga mulai bermain di luar, orang tua sebaiknya juga mengajarkan tata krama untuk bergaul. Bagaimana ia harus sharing saling menunggu giliran. Kalau Lebaran, anak diajarkan bersilaturahmi dan saling minta maaf. Juga diajarkan menghormati orang yang lebih tua. Misalnya, kepada yang tua, bersalamnya dengan cium tangan.
Hera mengakui bahwa anak kecil memang cenderung mengacak-acak rumah orang jika diajak bertamu. Nah, kalau sudah demikian, si orang tua harus mencegahnya. "Jangan didiamkan saja hanya karena merasa enggak enak memarahi anak di rumah orang. Menurut saya tak apa-apa saja anak kecil ditegur, tentunya dengan cara yang acceptable . Daripada ia merusak barang-barang orang lain, kan, lebih malu lagi. Pegangi dia dan dudukkan di sebelah orang tuanya. Kalau ia mulai berkeliaran lagi, segera hentikan."
Jika hal ini tak efektif, misalnya ia tetap ingin memainkan barang-barang tuan rumah, segera angkat si anak dan pindahkan dia dari tempat yang menarik perhatiannya tersebut. "Alihkan segera perhatiannya, misalnya dengan memberinya mainan kesukaannya. Kalau barang tersebut tak terlihat olehnya lagi, maka biasanya akan segera hilang dari pikirannya."
Orang tua juga sebaiknya menjelaskan tentang perbedaan aturan di rumah lain. Karena standar kesopanan satu keluarga dengan keluarga lain berbeda. Ada keluarga yang tidak membolehkan memakai sandal dan sepatu di dalam rumah. Sehingga alas kaki itu harus ditinggalkan di luar pintu. Keluarga lain justru membolehkan. "Justru orang tua harus menerangkan perbedaan ini. Untuk memperkaya wawasannya."
Kalau anak tidak berlaku sopan, misalnya suka meminum minuman si tamu. "Nah, kita harus tegur ia secara tegas tapi lembut bahwa hal itu tidak boleh. Ia harus ambil minumannya di dalam."
Teguran harus disesuaikan dengan usia dan pribadi anak. Ada anak yang sekali ditegur lantas sudah menangis, tapi ada anak yang cuek saja pada peringatan orang tuanya. "Namun umumnya, di usia batita ini, pelototan mata ibunya saja atau dengan kata-kata 'Jangan! Awas! Tidak boleh begitu!', sudah cukup."
Kalau teguran ini tidak jalan, bisa ditingkatkan dengan ancaman. Misalnya, 'kalau kamu masih terus begitu, nanti tidak boleh minum susu cokelat.' Jadi hanya bersifat mengurangi kesenangannya. "Lebih baik tidak dilakukan hukuman fisik karena itu tidak efektif," ungkap ketua program profesi Fak. Psikologi Universitas Indonesia ini.
Hera juga menyarankan bahwa teguran pada si kecil sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Segera setelah ia melakukan kesalahannya. Sehingga ia bisa menghubungkan hukumannya dengan perbuatannya. Kalau peneguran itu ditunda, misalnya menunggu hingga di dalam rumah, ia sudah lupa. "Anak kecil cepat melupakan suatu peristiwa. Kalau kita menegurnya atau menghukumnya di lain kesempatan, ia akan bingung, 'Salah saya apa, sehingga Ibu menghukum saya'. Tapi kalau saat itu juga ditegur, ia akan mengerti, 'Oh, Ibu tidak suka kalau saya melakukan hal ini.'" Namun Hera juga mengingatkan bahwa anak seusia batita masih spontan. Kata-katanya kadang begitu terus terang, sehingga kadang ada kata-katanya yang menurut orang tua sangat tidak sopan. Misalnya, 'Lo, tas Tante, kok, gendut kayak perut Tante.' "Hal ini biasanya dilakukan tanpa kesengajaan. Hanya karena spontanitas yang biasanya menjadi ciri anak-anak." Yang disengaja adalah, jika mereka mengucapkan kata-kata tak senonoh untuk mengejek. Misalnya mengolok-olok temannya, dsb. "Tapi biasanya ini terjadi pada anak di atas usia batita. Kalau anak batita lebih ke tak sengaja." Kalau sudah demikian, tugas orang tualah yang harus terus mengarahkan si kecil. Tentunya penghargaan pun harus diberikan padanya jika ia bisa memenuhi standar orang tuanya. Misalnya, kala ia tanpa disuruh dengan sendirinya mengucapkan 'terima kasih' pada si tetangga yang memberinya sesuatu. Nah, berilah hadiah. Hadiah ini tidak hanya berupa barang, tapi pujian, pelukan, belaian, elusan di kepalanya pun sudah sudah cukup. "Sebab kalau rewards ini berupa barang, jangan-jangan anak akan berbuat baik hanya agar dapat hadiah saja."
Minggu, 02 Januari 2011
Ada 3 Ilmu Umum yg membedakan orang gagal dan berhasil
1. Semua orang yg berhasil Selalu Mencari Jalan Keluar sampai mencapai apa yg diinginkan. Ketika menemui jalan buntu, dia tidak berhenti hanya menyesali keadaan buntu tsb. Dia terus balik badan dan mencoba mencari jalan lain yg bisa dilalui.
Pernah lihat semut berjalan beriringan? Coba anda halangi jalan semut beriringan tsb ketika mereka menuju sumber makanan (roti manis misalnya). Apa yg mereka lakukan ketika anda memblokir jalan mereka? apa mereka berhenti? tidak. Mereka berusaha belok arah mencari jalan yg kosong. Mereka fokus ke arah roti manis yg sudah menjadi incarannya dari tadi. Itulah insting struggle hewan yg layak anda tiru jika ingin berhasil.
Sementara orang yg merasa gagal adalah mereka yg berhenti di satu titik ketika menemui kesulitan. Bukannya dia tidak bisa berhasil, hanya saja dia berhenti, banyak mengeluh, dan selalu menghakimi diri sendiri bakal tidak bisa. Akibatnya ya benar jadi tidak bisa...!
Orang yg merasa gagal adalah orang yg tidak mau belajar dari kehidupan. Bahkan dari segi naluri perjuangan, dia kalah sama hewan semut sekalipun.
2. Semua orang Berhasil Mau Mengasah Mentalnya. Orang berhasil bukan berarti orang tidak pernah mengalami 'Rasa gagal', bahkan kebanyakan orang berhasil adalah orang-orang yang pernah terperosok mentalnya karena berbagai kesulitan. Namun keadaan terperosok mental tidak membuat dia lemah. Dia terus mengasah mental seraya menguatkan dirinya ; " Ini adalah jalan yg harus saya lalui jika ingin berhasil".
Sebagaimana pisau, maka mental yg terus diasah dg berbagai tingkat kesulitan akan tajam dengan sendirinya. Kalau sudah tajam (kuat) mentalnya, maka kesulitan apapun rela dia hadapi demi mencapai suatu tujuan mulia, yaitu keberhasilan.
Sementara orang yg merasa gagal adalah orang yg enggan mengasah mentalnya. Ketika menemui suatu kendala dalam bisnis misalnya, dia cepat putus asa. Mentalnya cepat merasa down ketika menghadapi suatu 'ketidakbisaan'. Padahal jika kendala itu rela dia hadapi dengan berbagai upaya, maka mentalnya akan semakin kuat.
Kuatnya mental akan menimbulkan energi baru untuk mencari jalan keluar dari berbagai kesulitan. Bukankah mental kita diuji ketika kita mau Lulus Sekolah dengan berbagai macam ujian harian atau ujian semester? Kita berusaha menguat-nguatkan mental ini agar bisa lulus ujian. Ada yg sudah mempersiapkan mentalnya jauh-jauh hari dan ada yang sistem kebut semalam (sks).
Namun apapun caranya, asal halal, semua ujian perlu kita hadapi dengan persiapan mental yg terus diasah....!
3. Semua Orang berhasil Mau Melewati Proses.Keberhasilan itu ternyata tidak instan. Ternyata untuk mencapai keberhasilan kita harus mau melewati proses dahulu.
Kebalikan dari orang berhasil, Orang yg merasa gagal adalah orang yg mengharapkan hasil yg cepat dan instant. Ketika hasil instan yg diharapkan tidak kunjung datang, mereka cenderung menyalahkan orang lain atau lingkungan
Orang gagal tidak pernah mau belajar dari proses yg dilalui. Baginya setiap ada kejadian tidak menyenangkan dalam setiap kegagalan dianggap sebagai aib yg menakutkan...
Padahal kejadian tdk menyenangkan adalah bagian dari proses yg akan membuat kita semakin berilmu. Kita jadi tahu apa yg mesti dilakukan untuk menghindari kerugian dan kegagalan, dan kita jadi tahu apa yg mesti dilakukan .
"Ya Allah, Terima Kasih atas Berbagai Kesulitan yg Engkau berikan pada diri ini...! Kesulitan itu telah menyadari Hamba-Mu atas kesalahan diri yg perlu diperbaiki. Hamba semakin yakin bahwa di setiap kesulitan selalu memberikan kemudahan untuk menambah kekuatan diri, dan Tidak ada yg tidak mungkin bagi Hamba jika Engkau Sudah berkehendak...!"
Semoga kita bisa menemukan jati diri setelah membaca 3 ilmu umum di atas.
Pada akhirnya kita sendirilah yg harus bertanggung jawab akan keberhasilan atau kegagalan yg bakal kita hadapi.....!
Sukses untuk Anda yg Terus Berusaha!!!
Yg Masih Terus Belajar,
Pernah lihat semut berjalan beriringan? Coba anda halangi jalan semut beriringan tsb ketika mereka menuju sumber makanan (roti manis misalnya). Apa yg mereka lakukan ketika anda memblokir jalan mereka? apa mereka berhenti? tidak. Mereka berusaha belok arah mencari jalan yg kosong. Mereka fokus ke arah roti manis yg sudah menjadi incarannya dari tadi. Itulah insting struggle hewan yg layak anda tiru jika ingin berhasil.
Sementara orang yg merasa gagal adalah mereka yg berhenti di satu titik ketika menemui kesulitan. Bukannya dia tidak bisa berhasil, hanya saja dia berhenti, banyak mengeluh, dan selalu menghakimi diri sendiri bakal tidak bisa. Akibatnya ya benar jadi tidak bisa...!
Orang yg merasa gagal adalah orang yg tidak mau belajar dari kehidupan. Bahkan dari segi naluri perjuangan, dia kalah sama hewan semut sekalipun.
2. Semua orang Berhasil Mau Mengasah Mentalnya. Orang berhasil bukan berarti orang tidak pernah mengalami 'Rasa gagal', bahkan kebanyakan orang berhasil adalah orang-orang yang pernah terperosok mentalnya karena berbagai kesulitan. Namun keadaan terperosok mental tidak membuat dia lemah. Dia terus mengasah mental seraya menguatkan dirinya ; " Ini adalah jalan yg harus saya lalui jika ingin berhasil".
Sebagaimana pisau, maka mental yg terus diasah dg berbagai tingkat kesulitan akan tajam dengan sendirinya. Kalau sudah tajam (kuat) mentalnya, maka kesulitan apapun rela dia hadapi demi mencapai suatu tujuan mulia, yaitu keberhasilan.
Sementara orang yg merasa gagal adalah orang yg enggan mengasah mentalnya. Ketika menemui suatu kendala dalam bisnis misalnya, dia cepat putus asa. Mentalnya cepat merasa down ketika menghadapi suatu 'ketidakbisaan'. Padahal jika kendala itu rela dia hadapi dengan berbagai upaya, maka mentalnya akan semakin kuat.
Kuatnya mental akan menimbulkan energi baru untuk mencari jalan keluar dari berbagai kesulitan. Bukankah mental kita diuji ketika kita mau Lulus Sekolah dengan berbagai macam ujian harian atau ujian semester? Kita berusaha menguat-nguatkan mental ini agar bisa lulus ujian. Ada yg sudah mempersiapkan mentalnya jauh-jauh hari dan ada yang sistem kebut semalam (sks).
Namun apapun caranya, asal halal, semua ujian perlu kita hadapi dengan persiapan mental yg terus diasah....!
3. Semua Orang berhasil Mau Melewati Proses.Keberhasilan itu ternyata tidak instan. Ternyata untuk mencapai keberhasilan kita harus mau melewati proses dahulu.
Kebalikan dari orang berhasil, Orang yg merasa gagal adalah orang yg mengharapkan hasil yg cepat dan instant. Ketika hasil instan yg diharapkan tidak kunjung datang, mereka cenderung menyalahkan orang lain atau lingkungan
Orang gagal tidak pernah mau belajar dari proses yg dilalui. Baginya setiap ada kejadian tidak menyenangkan dalam setiap kegagalan dianggap sebagai aib yg menakutkan...
Padahal kejadian tdk menyenangkan adalah bagian dari proses yg akan membuat kita semakin berilmu. Kita jadi tahu apa yg mesti dilakukan untuk menghindari kerugian dan kegagalan, dan kita jadi tahu apa yg mesti dilakukan .
"Ya Allah, Terima Kasih atas Berbagai Kesulitan yg Engkau berikan pada diri ini...! Kesulitan itu telah menyadari Hamba-Mu atas kesalahan diri yg perlu diperbaiki. Hamba semakin yakin bahwa di setiap kesulitan selalu memberikan kemudahan untuk menambah kekuatan diri, dan Tidak ada yg tidak mungkin bagi Hamba jika Engkau Sudah berkehendak...!"
Semoga kita bisa menemukan jati diri setelah membaca 3 ilmu umum di atas.
Pada akhirnya kita sendirilah yg harus bertanggung jawab akan keberhasilan atau kegagalan yg bakal kita hadapi.....!
Sukses untuk Anda yg Terus Berusaha!!!
Yg Masih Terus Belajar,
Langganan:
Postingan (Atom)